Indahnya Berbagi Petis Madura

Rahmatul Jannah, mahasiswa Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu mahasiswa asal Madura yang berhasil masuk IPB melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Awalnya tidak terlintas di benak Rahma untuk kuliah di IPB, karena menurutnya lokasi IPB cukup jauh dari tempat tinggalnya. Namun sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Madura (GASISMA) memotivasinya untuk tidak takut masuk IPB walaupun berada nun jauh dari tempat tinggalnya. Ia banyak diyakinkan oleh kakak kelas angkatannya yang telah lebih dulu masuk IPB.

Betul saja saat penerimaan mahasiswa baru, kakak angkatan yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Madura telah menyiapkan begitu rapi persiapan adik-adiknya untuk berangkat ke IPB. Menurut Rahma, ia dan mahasiswa baru lainnya dikumpulkan dan diberi penjelasan bagaimana teknis keberangkatan ke Bogor, sehingga ia merasa tidak sendiri.

Sesampainya di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor IPB, ternyata kakak angkatannya telah menyiapkan segala sesuatu yang ia dan orangtuanya perlukan, seperti penginapan dan sebagainya. Saat satu tahun berada di Tingkat Persiapan Bersama (TPB ), Rahma satu kamar dengan Astria asal Bandung dan Sumayah asal Tangerang. Ketika Astria bercakap-cakap dengan sesama orang Bandung, Rahma seringkali tertegun tidak mengerti bahasa Sunda yang disampaikan Astria, begitu juga dengan Astria, sering tidak mengerti bahasa yang disampaikan Rahma yang asal Madura.

Terkait bahasa pernah suatu waktu Rahma ingin menirukan bahasa yang dipakai kedua temannya, “Ngareunghap heula” yang artinya nafas dulu, tetapi usaha Rahma ini malah menjadi tertawaan temannya karena logat dan gayanya berbeda. Giliran Astria menirukan gaya bahasanya saat mendapat telpon dari kedua orangtuanya dalam bahasa Madura, “badha dimmah?” yang artinya ada dimana nih?

Tidak hanya itu, dalam setiap diskusi dengan teman-temannya, Rahma yang merasa gaya bicaranya biasa-biasa saja, sering kali diminta untuk menurunkan volume suaranya, karena dianggap terlalu lantang sehingga menurut mereka ia marah-marah. “Padahal saya bicara tidak marah. Saya mengambil kesimpulan, mungkin karena bahasa sehari-hari saya di Madura yang memiliki intonasi tinggi,” ujarnya.

Terkait makanan, Rahma kurang bersemangat ketika pertama kali makan di sekitar kampus IPB, karena ikan-ikannya tidak sesegar ikan di daerahnya. Karena tempat tinggalnya sangat dekat dengan laut, ikan yang dimasak orangtuanya merupakan ikan-ikan yang segar, sehingga ia bisa membedakan mana ikan segar dan tidak. Namun di sini jarang ikan yang segar seperti di kampungnya.

Rahma juga  merasa aneh ketika merasakan makan rujak dengan memakai gula merah. Karena di daerahnya ngerujak biasa memakai sambal petis. Sambal petis merupakan sambal dengan menggunakan bahan dari minyak ikan.

Ketika merasa kangen dengan masakan asal daerahnya, ia pun mencari warung yang menyiapkan masakan Madura. “Di sini paling yang sering ditemui adalah sate. Namun tetap saja beda,” imbuhnya.

Rahma kini banyak belajar dari banyaknya perbedaan yang ia jumpai saat jauh dari kampung halaman. Ia bahkan mengaku senang, karena kini lidahnya semakin terbiasa merasakan makanan khas nusantara lainnya. Saat pulang ke Madura, tak jarang ia bawa serta makanan khas Bandung atau Bogor sebagai oleh-oleh untuk orang rumah. Sebaliknya, ia pun berbagi petis Madura untuk teman-temannya di IPB. (dh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *